Senin, 07 Januari 2013
Sangyang Wisnu
| Sangyang Wisnu |
SANG HYANG WISNU Sang Hyang Wisnu seorang Dewa, putra Hyang Guru. Halusnya menitis, menjelma pada raja-raja dan ksatria ksatria. Hyang Wisnu pernah juga menjadi raja di muka bumi ini sebagai manusia biasa bertakhta di Purwacarita dengan gelar Sri Maharaja Budakresna. Mereka yang mendapat titisan Hyang Wisnu, menjadi orang orang yang sakti dan waspada. Yang mendapat titisan Wisnu ialah: 1. Prabu Arjunasasrabau dari Maespati, 2. Patih Suwanda di Maespati, 3. Sri Rama, 4. Arjuna dan. 5. Prabu Kresna, Penitisan juga terjadi sesudah zaman Purwa, ialah pada Prabu Jayabaya di Kediri. Ketika Dewa ini dilahirkan, bumi terpengaruh hingga getar, sampai sampai Betara Guru pun jatuh terpelanting. Setelah dewasa, ia beristrikan Dewi Setyabama, putri Hyang Pancaresi, Hyang Wisnu bisa tiwikrama, menjadi raksasa yang tidak terhingga besarnya dan memiiki senjata cakra yang sangat sakti. Kesaktian dan senjata cakra itu digunakan oleh titisan Wisnu sebagai bukti bahwa mereka memang titisannya Hyang Wisnu merupakan pokok pangkal yang memulai keturunan Pendawa dan ia berbesan dengan Hyang Brama. Sang Hyang Wisnu bermata jaitan, berhidung mancung, bermuka agak mendongak, hal mana menandakan bahwa ia bersuara nyaring. Bermahkota dengan jamang tiga susun, bergaruda membelakang dan bersunting waderan. Sebagian rambutnya terurai. Berbaju dan berkain rapekan pendeta. Keris terselip di bagian depan, sebagaimana halnya dengan pakaian dewa-dewa. Bergelang, berpontoh, beakeroncong dan bersepatu. Asal mula Hyang Wisnu mendapat bunga Wijayakusuma ialah sewaktu ia akan kawin dengan Dewi Pertiwi yang minta sebagai jujur bunga Wijayakusuma. Semula bunga itu dimiliki oleh Begawan Kesawasidi. Tersebutlah, ketika Hyang Wisnu akan kawin dengan Dewi Pertiwi, maka bunga tersebut dipinjam oleh Hyang Wisnu untuk digunakan sebagai jujur. Permintaan itu dikabulkan. Tetapi untuk lengkapnya, barang siapa memiliki bunga itu harus memiliki pula kulitnya dan kulit itu dimiliki oleh Prabu Wisnudewa dari negara Garbapitu. Kulit bunga yang bertempat di dalam mulut seekor banteng (lembu hitam) dapat direbut oleh Hyang Wisnu dari mulut banteng itu. Terkabullah perkawinan Hyang Wisnu karena bisa mengadakan jujur yang diminta. Menurut adat-istiadat Sala, pada waktu di situ masih terdapat seorang raja, maka pemetikan bunga Wijayukusuma dari Pulau Nusakambangan dilakukan oleh seorang ulama atas titah raja. Sumber : Sejarah Wayang Purwa - Hardjowirogo - PN Balai Pustaka - 198
Sangyang Bayu
![]() |
| Sangyang Bayu |
SANG HYANG BAYU Sang Hyang Bayu adalah Dewa angin. Dia putra Betara Guru dan berkuasa mengenyahkan seisi alam ini dengan anginnya. Tanda Dewa berjiwa bayu (angin) ialah berkain poleng (berkotak kotak) dan berkuku pancanaka pada ibu jari. Hyang Bayu mempunyai saudara-saudara tunggal-bayu, sama-sama berkekuatan angin; Yakni: 1. Sang Hanuman, 2. Wrekodara (Bratasena), 3. Wil Jajahwreka, 4. Begawan Maenaka, dan 5. Liman Satubanda, juga bernama Gajah Sena. Kalau berjalan, kelima saudara ini selalu diikuti oleh angin puyuh dan jalan mereka cepat sekali. Di dalam lakon Begawan Palasara Krama (kawin), Betara Bayu datang sebagai pemisah perselisihan paham antara Palasara dan Sentanu dalam memperebutkan kemuliaan dengan keputusan, bahwa Sentanu memilih kemuliaan di Marcapada (dunia), dan Palasara memilih kemuliaan di Kahyangan, (akhirat). Selain di dalam lakon ini, Betara Bayu juga kerapkali datang di Marcapada sebagai pemisah, apabila terjadi suatu perselisihan paham. Ketika Perang Baratayuda semakin mendekat, para Dewa turun ke negara Astina untuk memisahkan Pendewa dan Korawa yang bersengketa. Betara Bayu pun ikut turun. Namun segala daya-upaya para Dewa tak berhasil dan perang akhirnya pecah jugalah. Di dalam pewayangan, pada perang yang penghabisan yang lazim disebut perang sampak, Wrekodara (Bratasena) umumnya menyebabkan mati musuhnya. Setiap kali musuh mati, menarilah Wrekodara dan tarinya itu disebut tari tayungan. Tetapi kalau musuhnya orang Korawa, musuhnya itu tidak mati, sebab orang-orang Korawa hanya akan mati kelak dalam Perang Baratayuda. Sebelum ada Wrekodara, perang yang penghabisan ini disudahi oleh Betara Bayu. Hyang Bayu bermata telengan, berhidung dempak berkuku pancanaka. Bermahkota, berjamang tiga-susun, bersunting waderan, berpupuk, berkain poleng, menandakan Dewa ini berkesaktian angin. Hyang Bayu Dewanya Wrekodara. Maka Wrekodara pun disebut juga Bayusuta, oleh karena dipungut anak Hyang Bayu. Hanuman pun diambil anak oleh dewa mi. Maka ia juga berkain polong untuk menandakan, bahwa ia berdewa Bayu. Selain kain baju mereka yang berdewa Bayu serupa, kepala mereka juga berpupuk dan mereka pun berkuku pancanaka. Sumber : Sejarah Wayang Purwa - Hardjowirogo - PN Balai Pustaka - 1982
Sangyang Indra
![]() |
| Sangyang Indra |
BETARA INDRA Betara Indra adalah putra Hyang Guru. Dewa ini terhitung berkuasa di sebagian Jonggringsalaka, tempat tinggal Betara Guru yang disebut juga Kaendran. Waktu Dewa ini dilahirkan, demikian besar pengaruhnya, hingga bumi bergetar, angin meniup sangat kencang dan air laut menghempas sampai meluap kedarat. Kekuasaan Hyang Indra ialah memerintah segala Dewa atas titah Betara Guru. Maka Betara Indra pun bertanggung jawab mengenai segala sesuatu di tempat kediaman para Dewa. Ia menguasai semua bidadari di Sorga. Berkuasa menentukan hadiah-hadiah yang akan dianugerahkan kepada manusia. Karena kekuasaannya yang begitu besar, maka Betara Indra selalu menerima hal-hal yang diajukan oleh insan manusia kepada Dewa. Indra berputra dua orang putri: 1. Dewi Tari yang dianugerahkan kepada Raden Sugriwa, seorang ksatria kera, dan 2. Dewi Tari yang dianugerahkan kepada Prabu Dasamuka, Raja Raksasa di Alengka. Betara Indra bermata kedondongan (serupa buah kedondong), berhidung mancung, berbibir rapat. Bermahkota, sebagai tanda, bahwa ia adalah seorang Dewa Raja. Berkain rapekan pendeta, berbaju, dan bersepatu. Bergelang, berpontoh, dan berkeroncong. Sumber : Sejarah Wayang Purwa
Sangyang Brama
![]() |
| Sangyang Bromo |
SANG HYANG BRAMA Sang Hyang Brama adalah Dewa api (brama berarti api), putra Hyang Guru. Ia bersemayam di Deksina. Karena kesaktiannya Hyang Brama dapat membasmi segala keburukan yang menjelekkan dunia ini dengan apinya. Ketika Dewa ini dilahirkan besar pengaruhnya terhadap dunia mengeluarkan api hingga menjulang ke angkasa. Setelah dewasa, ia beristrikan Dewi Saraswati, putri Hyang Pancaweda yang terkenal karena sangat cantiknya. Dewa ini pernah bertakhta sebagai raja di Gilingwesi setewasnya Prabu Watugunung. Dewa yang bertakhta sebagai raja di dunia disebut ngejawantah, menampakkan diri. Suatu ketika Hyang Brama menyalahi adat-istiadat Dewa karena memihak pada Betari Durga dan bermaksud untuk memusnakan keluarga Pendawa. Kehendak Betara Brama dimufakati oleh Durga. Sampai sampai juga putri Hyang Brama, Dewi Dresanala yang diperistri oleh Arjuna, diceraikan oleh Hyang Brama. Kehendak Hyang Brama untuk memusnakan keluarga Pendawa terkabul. Malahan Hyang Brama dapat dikalahkan oleh anak Arjuna yang bernama Wisanggeni. Hyang Brama ditangkap oleh Wisanggeni dan diserahkan kepada Hyang Guru. Setibanya di hadapan Guru, Betara Brama menjadi sadar akan kekeliruannya. Ia diampuni oleh Hyang Guru dan kembali ke tempat kediaman para Dewa Kahyangan. Menurut lakon ini meski Dewa sekalipun, kalau bersalah, bisa kalahkan oleh manusia biasa. Sang Hyang Brama merupakan pangkal yang menurunkan Pendawa dan ia berbesan dengan Hyang Wisnu. Sang Hyang Brama bermata kedondongan. Berhidung sembada (serba cukup) dan berbibir rapat. Ia bermahkota, menandakan bahwa ia Dewa yang berkuasa. Ia tidak menyelipkan keris secara yang biasa dilakukan orang, melainkan diselipkannya di depan, oleh karena ia memakai haju yang menutupi bagian belakang badannya. Memakai keris semacam itu disebut yang berarti syak wasangka selalu, sehingga setiap waktu ada bahaya keris itu mudah dihunus. Memakai keris secara demikian dilarang ole penjaga kerajaan, oleh karena si pemakainya dianggap mencuri. Menurut riwayat ini nampak, bahwa Dewa sekalipun bisa mengalami masa kalahnya dalam menghadapi manusia biasa, ini menandakan bahwa kebenaranlah yang selalu menang atas perbuatan salah manusia. Selagi Hyang Guru sebagai Dewa yang tertinggi bisa mengalami kekalahannya juga terhadap manunia biasa, hal itu disebabkan kerena salahnya perbuatan: Hyang Guru. Sumber : Sejarah Wayang Purwa - Hardjowirogo - PN Balai Pustaka - 1982
Sangyang Guru/Manikmaya
Di Kahyangan Keling, Sanghyang Tunggal dihadap para putra, yaitu Sanghyang Rudra, Sanghyang Darmastuti, dan Sanghyang Dewanjali. Mereka membicarakan kisah perjalanan hidup sang leluhur, yaitu Sanghyang Nurcahya dalam Kitab Pustaka Darya. Ternyata pada mulanya Sanghyang Nurcahya adalah makhluk berbadan jasmani, dan setelah menjalani tapa brata bertahun-tahun, akhirnya berubah wujud menjadi makhluk berbadan rohani yang tinggal di alam halus.
Sanghyang Tunggal ingin sekali memiliki anak yang bisa berbadan jasmani juga rohani, sehingga kelak bisa menjadi pemimpin Triloka, atau tiga alam, yaitu alam atas, alam tengah, dan alam bawah. Dengan demikian, para dewa tidak hanya memimpin bangsa jin saja, tetapi juga mampu memimpin umat manusia seperti Nabi Suleman, tokoh yang telah mengalahkan ayahnya. Maka, ia pun memutuskan untuk pergi bertapa demi mencapai keinginan tersebut. Untuk selanjutnya, takhta Kahyangan Keling diserahkan kepada Sanghyang Rudra yang kemudian bergelar Sanghyang Darmadewa.
SANGHYANG TUNGGAL PERGI BERTAPA
Sanghyang Tunggal kemudian berpamitan kepada sang istri, yaitu Dewi Darmani untuk pergi bertapa mewujudkan cita-citanya. Dewi Darmani mengizinkan serta merelakan Sanghyang Tunggal jika harus menikah lagi demi mendapatkan anak yang berbadan jasmani dan rohani. Sanghyang Tunggal pun mengajak istrinya untuk berserah diri kepada Tuhan semoga mendapatkan jalan yang terbaik.
Setelah dirasa cukup, Sanghyang Tunggal lalu berangkat meninggalkan Kahyangan Keling dan bertapa di tepi pantai dengan duduk di atas batu karang.
PRABU REKATATAMA MENCARI MENANTU
Tersebutkah raja jin berwujud kepiting dari Kerajaan Telengsamodra, bernama Prabu Rekatatama. Ia memiliki seorang putri cantik bernama Dewi Rekatawati yang telah bermimpi menikah dengan seorang dewa bernama Sanghyang Tunggal. Demi untuk mewujudkan mimpi putrinya itu, Prabu Rekatatama pun berangkat mencari keberadaan Sanghyang Tunggal.
Prabu Rekatatama berhasil menemukan Sanghyang Tunggal yang bertapa di tepi pantai. Ia berusaha membangunkan calon menantunya itu namun tidak berhasil. Bahkan, daya perbawa Sanghyang Tunggal justru membuat Prabu Rekatatama terlempar dan jatuh pingsan.
Setelah sadar dari pingsan, Prabu Rekatatama kemudian mengheningkan cipta, mengerahkan kesaktiannya untuk membawa pergi Sanghyang Tunggal dengan cara gaib.
SANGHYANG TUNGGAL MENIKAH DENGAN DEWI REKATAWATI
Sanghyang Tunggal terbangun dari tapa dan terkejut karena tahu-tahu dirinya sudah berada di dalam keraton bawah laut. Di hadapannya sudah ada seorang raja jin kepiting dan putri cantik, yang tidak lain adalah Prabu Rekatatama dan Dewi Rekatawati.
Prabu Rekatatama menyampaikan maksudnya untuk melamar Sanghyang Tunggal sebagai suami putrinya. Sanghyang Tunggal mendapat firasat bahwa dengan cara inilah ia dapat mencapai cita-cita memiliki putra berbadan jasmani dan rohani. Maka, ia pun menerima lamaran tersebut.
TERCIPTANYA TIGA PUTRA DARI SEBUTIR TELUR
Singkat cerita, Dewi Rekatawati telah mengandung anak Sanghyang Tunggal. Ketika tiba waktunya, ternyata yang ia lahirkan adalah sebutir telur. Sanghyang Tunggal sangat marah dan membanting telur tersebut. Namun telur itu melesat terbang ke angkasa meninggalkan Kerajaan Telengsamodra. Sanghyang Tunggal semakin penasaran dan segera terbang pula untuk mengejarnya.
Telur ajaib itu melesat sampai ke Kahyangan Tengguru. Sanghyang Wenang terkejut dan berusaha menangkapnya. Namun telur aneh itu begitu gesit, dan baru bisa ditangkap setelah Sanghyang Wenang mengerahkan kesaktiannya.
Sanghyang Tunggal datang menghadap dan menceritakan bahwa telur tersebut adalah anaknya yang terlahir dari Dewi Rekatawati. Sanghyang Wenang paham isi hati putranya, maka ia pun mengheningkan cipta memohon izin Tuhan supaya telur di tangannya itu bisa berubah menjadi anak.
Selesai bersamadi, Sanghyang Wenang lalu menyiram telur itu dengan air keabadian Tirtamarta Kamandanu. Secara ajaib, cangkang telur pun terbuka dan berubah menjadi seorang laki-laki yang diberi nama Batara Antaga. Selanjutnya putih telur juga berubah menjadi seorang laki-laki yang diberi nama Batara Ismaya. Dan yang terakhir, kuning telur berubah menjadi laki-laki pula dan diberi nama Batara Manikmaya.
Sanghyang Tunggal sangat senang melihat ketiga putranya itu ternyata lahir sesuai harapan, yaitu bisa berbadan jasmani dan rohani. Ia juga meramalkan kelak dari Batara Ismaya akan lahir sepuluh anak, dan dari Batara Manikmaya lahir sembilan anak, sehingga melalui mereka keturunan bangsa dewa akan berkembang biak di muka bumi.
SANGHYANG TUNGGAL MENJADI SANGHYANG PADAWENANG
Sanghyang Wenang kemudian menyampaikan niatnya untuk menyerahkan takhta Kahyangan Tengguru kepada Sanghyang Tunggal beserta seluruh pusaka peninggalan leluhur. Sanghyang Tunggal tunduk dan patuh terhadap keputusan sang ayah. Maka, Sanghyang Wenang pun memberikan tambahan berbagai macam ilmu kesaktian, kemudian ia menitis, bersatu jiwa raga ke dalam diri Sanghyang Tunggal.
Sejak hari itu, Sanghyang Tunggal menjadi pemimpin Kahyangan Tengguru. Karena ia merasa ilmu pengetahuan dan wibawa sang ayah jauh lebih besar, maka ia pun mengganti nama menjadi Sanghyang Padawenang.
PERSELISIHAN BATARA ANTAGA DAN BATARA ISMAYA
Beberapa tahun kemudian terjadilah perselisihan antara Batara Antaga dan Batara Ismaya. Mereka berdua sama-sama merasa berhak menjadi ahli waris Sanghyang Tunggal. Batara Antaga sebagai anak tertua merasa yang paling berhak naik takhta. Namun hal itu dibantah oleh Batara Ismaya yang mengetahui sejarah leluhur, bahwa Sanghyang Nurrasa dulu menunjuk Sanghyang Wenang sebagai ahli waris, padahal Sanghyang Darmajaka lebih tua.
Kedua kakak beradik itu lalu bertarung adu kesaktian. Namun keduanya sama-sama kuat sehingga sulit menentukan siapa yang menang dan siapa yang kalah. Akhirnya, mereka pun memanggil Batara Manikmaya untuk menjadi saksi dan memberikan penilaian yang adil terhadap persaingan tersebut.
Batara Manikmaya lalu mengusulkan supaya Batara Antaga dan Batara Ismaya menelan gunung ke dalam perut dan mengeluarkannya melalui dubur. Dengan cara ini dapat diketahui siapa yang lebih sakti dan siapa yang lebih pintar. Keduanya pun setuju. Batara Antaga yang mula-mula memilih salah satu gunung di Pegunungan Himalaya, kemudian berusaha menelannya dalam sekali lahap. Setelah berusaha sekuat tenaga, gunung tersebut pun masuk ke dalam perut Batara Antaga, namun tidak bisa keluar. Karena tadi ia telah memaksakan diri melahap gunung, maka mulutnya kini menjadi robek dan lebar, matanya pun melotot besar, serta tubuhnya menjadi bulat dan gemuk.
Batara Ismaya maju dan memilih sebuah gunung yang lebih besar. Dengan sabar dan telaten ia memakan gunung itu perlahan-lahan hingga semua masuk ke dalam perutnya setelah beberapa hari. Namun ia juga tidak mampu mengeluarkannya melalui dubur. Karena tidak tidur selama berhari-hari, kini wujud Batara Ismaya menjadi berubah jelek, dengan mata sembab dan hidung ingusan. Selain itu, karena gunung yang ditelannya lebih besar daripada yang ditelan Batara Antaga, akibatnya tubuhnya pun menjadi lebih gemuk dan lebih bulat daripada sang kakak.
![]() |
| Batara Antaga menjadi Togog. |
![]() |
| Batara Ismaya menjadi Semar. |
BATARA MANIKMAYA MEMENANGKAN PERLOMBAAN
Sanghyang Padawenang datang dan sangat murka melihat ulah kedua putranya. Ia pun mengumumkan bahwa Batara Manikmaya adalah yang berhak mewarisi takhta Kahyangan Tengguru, sedangkan mereka berdua diperintah untuk pergi bertapa di alam Sunyaruri. Kelak jika saatnya tiba, Sanghyang Padawenang akan memberikan perintah kepada mereka supaya muncul ke alam nyata dan menjadi pengasuh keturunan Batara Manikmaya. Batara Antaga hendaknya menjadi pengasuh golongan raksasa, sedangkan Batara Ismaya menjadi pengasuh golongan manusia.
Batara Antaga dan Batara Ismaya mematuhi keputusan sang ayah, namun mereka tidak bisa menerima begitu saja kalau Batara Manikmaya langsung diangkat menjadi ahli waris Kahyangan Tengguru. Mereka meminta Batara Manikmaya harus bisa membuktikan kalau dirinya juga bisa menelan dan mengeluarkan gunung sesuai perlombaan yang telah ditetapkan tadi.
Batara Manikmaya setuju. Ia lalu memilih gunung paling indah di Himalaya, yaitu Gunung Kaelasa untuk dimasukkan ke dalam perut. Berbeda dengan kedua kakaknya, ia lebih dulu mengheningkan cipta dan mengubah gunung itu menjadi sangat kecil sehingga dapat dengan mudah ditelan dan dikeluarkan lagi melalui dubur. Setelah itu, gunung tersebut dikembalikan ke ukuran asli dan diletakkan ke tempat semula.
Batara Antaga dan Batara Ismaya mengakui kepandaian dan kesaktian Batara Manikmaya, dan mereka pun merelakan takhta Kahyangan Tengguru menjadi milik si adik bungsu. Namun Batara Ismaya mengeluhkan wujudnya yang telah berubah menjadi buruk rupa, sehingga mustahil ada wanita yang sudi menjadi istrinya. Padahal Sanghyang Padawenang dulu pernah meramalkan bahwa ia kelak akan memiliki sepuluh anak.
Sanghyang Padawenang menjawab bahwa urusan jodoh itu sudah diatur oleh Tuhan Yang Mahakuasa. Jelek atau tampan bukanlah ukuran untuk mendapatkan jodoh. Usai berkata demikian ia lantas mendatangkan seorang wanita yang tidak lain adalah keponakannya sendiri, yaitu Dewi Senggani putri Sanghyang Hening. Wanita inilah yang ditakdirkan menjadi jodoh Batara Ismaya.
BATARA MANIKMAYA MEMPEROLEH KUTUKAN
Melihat kedua kakaknya telah berubah menjadi buruk rupa, tiba-tiba timbul sifat sombong dalam diri Batara Manikmaya yang merasa paling tampan dibanding mereka berdua. Sanghyang Padawenang prihatin mendengar kesombongan itu. Ia pun meramalkan bahwa Batara Manikmaya kelak akan menerita empat jenis cacat, yaitu berkaki pincang, berleher belang, bertaring dua, dan berlengan empat.
Batara Manikmaya menyesali kesombongannya dan memohon ampun. Namun Sanghyang Padawenang mengatakan bahwa itu semua telah menjadi takdir Tuhan dan semoga menjadi pengingat agar Batara Manikmaya lebih berhati-hati dalam perkataan dan perbuatan.
BATARA MANIKMAYA MENJADI RAJA DEWA
Singkat cerita, Batara Ismaya telah menikah dengan Dewi Senggani dan mendapatkan sepuluh anak, yaitu Batara Wungkuam, Batara Kuwera, Batara Siwah, Batara Wrehaspati, Batara Surya, Batara Candra, Batara Yamadipati, Batara Temburu, Batara Kamajaya, dan Batari Darmanastiti. Setelah itu ia pun mohon pamit dan berangkat bersama Batara Antaga menuju ke alam Sunyaruri untuk mulai bertapa. Sejak saat itu Batara Antaga memakai nama Kyai Togog, sedangkan Batara Ismaya memakai nama Kyai Semar.
Setelah keberangkatan kedua putranya, Sanghyang Padawenang lalu menyerahkan takhta Kahyangan Tengguru dan segala pusaka warisan leluhur kepada Batara Manikmaya, sedangkan ia sendiri hidup menyepi dengan membangun kahyangan baru bernama Kahyangan Awang-Awang Kumitir. Batara Manikmaya kemudian menjadi raja para dewa dengan bergelar Batara Tengguru, atau disingkat Batara Guru.
------------------------------ TANCEB KAYON ------------------------------
Langganan:
Postingan (Atom)









